Populer

Akhirnya eksekusi pidana mati jilid 3 dizaman Presiden Jokowi terlaksana. Pasti ada kontroversi seputar eksekusi mati ini. Tapi kita musti ingat bahwa kejahatan narkoba di Indonesia sudah menjadi prioritas utama untuk diberantas dan Indonesia sudah masuk darurat Narkoba. Semua kalangan pernah tertangkap sedang menggunakan narkoba baik pelajar, mahasiswa, hakim, jaksa, polisi, tentara, dosen, artis bahkan bupati pun ada yang tertangkap sedang menggunakan Narkoba. Dikalangan medis, ada juga dokter yang tertangkap tangan menggunakan narkoba bahkan dokter lembaga pemasyarakatan (Lapas) ada yang tertangkap membatu peredaran narkoba. Saya masih ingat ada kerabat saya penderita narkoba akhirnya menderita HIV AIDS dan Hepatitis C, sangat sulit sekali lepas dari narkoba padahal sudah menderita HIV AIDS sampai akhirnya meregang nyawa dan tewas dalam usia yang masih relatif muda.
Rasanya bagi penduduk kota metropolitan tidak ada kerabat kita yang sama sekali terbebas dari Narkoba. Selain itu sebagai seorang dokter setiap waktu selalu saja bertemu, dengan korban-korban akibat narkoba. Saya secara tegas harus mengatakan bahwa memang peredaran narkoba harus dikendalikan dan bagi para pengedar harus mendapat hukuman layak. Apalagi kalau sudah diputuskan hukuman mati, sudah sewajarnya jika dilakukan eksekusi, masyarakat selalu menunggu ketegasan dan komitmen pemerintah untuk memberantas narkoba dengan dieksekusi matinya terpidana mati kasu narkoba. Apalagi terbukti pada beberapa kasus, ada seorang pidana mati yang bisa tetap melakukan transaksi dari dalam penjara.

Sebagai seorang praktisi kesehatan saya melihat setiap waktu ada saja korban yang datang ke rumah sakit akibat Narkoba. Bicara soal Narkoba, memang tidak bisa dilepaskan dengan konsumsi alkohol dan rokok. Mustinya pengendalian ketiganya ini berlangsung satu paket. Saya berharap semangat untuk memberantas narkoba juga belanjut untuk membatasi konsumsi rokok dan alkohol.

Kenapa demikian? Ketiga racun ini “Rokok,Narkoba,Alkohol” sama-sama membawa dampak buruk buat kesehatan seseorang bahkan dapat menyebabkan kematian. Rokok, narkoba dan alkohol juga sama-sama bersifat adiksi (ketagihan) dan sama dapat merusak tubuh.
Secara medis komplikasi akibat menggunakan kokain salah satu narkoba yang sering diselundupkan ke Indonesia bisa meliputi gangguan banyak organ. Komplikasi yang terjadi bisa pada jantung, paru, ginjal, hati, saluran pencernaan, sistim syaraf baik otak maupun sistim syaraf lainnya. Gangguan jantung yang bisa terjadi antara lain serangan jantung, gangguan irama jantung, kardiomiopati dan peradangan otot jantung. Gangguan saluran pencernaan yang terjadi bisa berupa kebocoran saluran cerna, peradangan usus besar dan iskemik usus. Selain gangguan kesehatan yang terjadi secara perlahan-lahan sampai terjadi kematian, para pecandu bisa mengalami kematian mendadak akibat menggunakan narkoba ini. Selain ini para pencandu kokain ini juga bisa mengalami gangguan seksual dan mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa yang terjadi antara lain cemas, depresi, paranoid, psikosis dan mereka yang menggunakan kokain ini cenderung untuk melakukan bunuh diri. Jika dalam melakukan aktifitas penggunaan narkoba ini menggunakan jarum suntik secara bergantian maka mereka mempunyai risiko untuk tertularnya berbagai penyakit infeksi antara lain hapatitis B atau C atau virus HIV.
Bagaimana dengan amphetamin? Pada keadaan akut para pecandu akan mengalami jantung berdebar-debar, irama jantung tidak teratur dan peningkatan tekanan darah. Para pecandu juga dapat mengalami suhu tubuh yang meningkat dan kejang-kejang dan jika tidak tertolong dapat menyebabkan kematian secara langsung. Pada komplikasi kronis, gangguan kesehatan yang terjadi juga mirip dengan narkoba lain yaitu menyebabkan gangguan berbagai organ, antara lain gangguan jantung, sistim pernafasan, sistim syaraf, gangguan pencernaan dan juga dapat menyebabkan gagal ginjal. Sama dengan kokain, amphetamin juga bisa menyebabkan gangguan jiwa.
Dari sisi ketagihan, sangat sulit bagi seseorang yang sudah adiksi untuk melepaskan diri dari ketiga bahan berbahaya ini. Kita bisa melihat ada seorang artis yang bolak balik tertangkap karena menggunakan Narkoba. Adiksi terhadap salah satu narkoba akan membuat seseorang pecandu narkoba tersebut bisa melakukan aktifitas antisosial demi mendapatkan narkoba tersebut.
Pasien dengan riwayat narkoba suntik, akan mempunyai risiko untuk tertular virus HIV atau virus Hepatitis C atau B. Suami atau istri dari pengguna Narkoba suntik ini juga mempunyai risiko kalau mereka punya anak, anak yang mereka akan lahirkan juga mempunyai risiko untuk terjangkit virus HIV atau hepatitis virus ini.
Melihat dampak buruk dari narkoba, akhirnya komitmen pemerintah memang harus tinggi terhadap pemberantasan narkoba, tidak saja menolak grasi bagi terpidana mati tapi secara terus menerus melakukan razia untuk mencegah beredarnya narkoba ini. Secara terus menerus harus ada pemeriksaan rutin kepada para aparat untuk mendeteksi apakah para aparatur negara tersebut pengguna Narkoba.
Semua upaya yang dilakukan adalah agar bangsa ini tidak hancur dikemudian hari karena narkoba. Mudah-mudahan eksekusi mati ini dapat membuat jera bagi para bandar narkoba bahwa saat ini Indonesia bukan lagi menjadi surga buat penyebaran narkoba ini.
Salam sehat,
Dr. Ari F Syam

Kenapa eksekusi mati harus dilaksanakan untuk terpidana Narkoba?